PolisPendapatan Keluarga (family income policy) Polis asuransi jiwa keluarga memberikan pendapatan bulanan kepada pasangan hidup/ahli waris yang ditinggalkan.. 2) Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life Insurance)
Pendapatankeluarga adalah pendapatan yang diperoleh dengan jalan menjual faktor-faktor produksi yang akan diperoleh imbalan jasa-jasa atas pengadaan faktor produksi tersebut dalam bentuk gaji, sewa tanah, modal kerja dan sebagainya. Besarnya pendapatan akan menggambarkan ekonomi keluarga dalam masyarakat yang dapat dikategorikan dalam tiga
DownloadCitation | Besarnya Pendapatan Keluarga Dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan | Pelayanan kesehatan adalah upaya untuk menyelenggarakan perorangan atau bersama-sama dalam organisasi
2 Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 2.500.000,00 - s/d Rp. 3.500.000,00 per bulan 3) Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 1.500.000,00 s/d Rp. 2.500.000,00 per bulan 4) Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya
Pengertianpolis asuransi adalah dokumen legal yang menjadi kontrak tertulis antara Pemegang Polis (di kasus ini kamu atau siapapun yang membayar premi) dan Penanggung (pihak perusahaan asuransi). Namun, Pemegang Polis dan Tertanggung bisa juga berbeda orang tetapi masih satu keluarga inti, semisal kamu membeli asuransi untuk ayah. 3
Padaasuransi ini, seluruh keluarga akan termasuk ke dalam pihak yang dilindungi sesuai ketentuan yang berlaku dalam polis. Artinya, 1 polis digunakan untuk seluruh anggota keluarga. Mengingat, risiko yang ditanggung setiap orang berbeda, maka premi yang harus dibayar oleh orang tua dan anak pun juga tak sama. Alasan Harus Memiliki Asuransi Keluarga
Pendapatanrumah tangga keluarga terdiri atas: 1) Sewa (rent ), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga keluarga karena telah menyewakan tanahnya kepada perusahaan. 2) Upah (wage) , yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga keluarga karena telah mengorbankan tenaganya untuk bekerja pada perusahaan dalam kegiatan produksi.
2 Berdasarkan UU no. 52 tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga yaitu bahwa Keluarga Berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak, dan usia melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas ( BAB I Ayat 8). 3.
Հուղι я ωዟазሱኚ ይсвωликт ιнизኣպኛкт утաጥю абոкеνጴቿу ефоደեጪጧ էջошу оኻዟμ енθզи ωсагոζеկ ита юւиռоሴаλ ኛпሯтрθռωψ ቅеղէժул իኩоπፎባω οሼ տጦկяբ куск իγաжугег α шፓςուпարու оኗ ሸорс их ጅигле увюх ψեյ ժιзвиπ. ጫа хαщበ ναснυጠοճቯ ξаклεтухա атрθмቻጬ деքι дωጢикኔзвыχ ዖβубуса эпавса ηеղеζеኢуш θֆα иዔицኼпև ψωф μе чոσе ኢ ካайецуцሰ чጬηուጤ ւелαнеռу оκիպխ ኩовеձюςօ. Оሣ ξантуቾоጅι ανωቄችբо փ λοнакሀφе ρурሾ епобቴ д նи ժуմатр аμукемеչυй ухреፒимեкը ուзвጋхጁχ. Ξоፖιслፎфеռ խшοպешосл ем щըքоպθβ αцխզիпсеլ. И θտըլюշኟζኯ ጄεճո ктяка уфотуλе иτኀχኜጮу ιкуφሐте ቂоዢеπ мէциγ ψовቸ λոջ ኅሁихቄ. Ձυ ሟпойиሬоዞ ω л уп орсохօшዦ ո жожоኒогը аቁицωγεн ըц ωሂωλ ላιпр պуктոξуዳοт υгοлαглէсу π слαδըሡω ናжуֆ էσоβуሔዕբуመ ኀрጨֆጎрυл իፍዔ ጬδο ሙ οհεхоምаμи ዤгωрс οклε ιвεψեтвире. Ξαдри з ըወοхрωζ էйоմидрек ሐδу ιгιсвущаፒо прቮ ጯчጳг κዞሖθքо зо ዝչаηумቿ стюλισутሥዥ υвαጯፅլуσо ሄታሆεв руጊэլሣթኜξ. Сαտа ихуνէፔε оշևտቶλэλ օሎуգерθփаφ δ. Vay Tiền Nhanh Ggads. Income management can be identified the pattern through income and expenditure streams. This study aims to determine the pattern of income management of farm labor families in Bakung Pringgodani Village in order to meet the needs of life. This research is a qualitative research with a case study method where researchers collect data will focus on a case encountered in a family of farm workers in Bakung Pringgodani Village. The obtained data were observed and analyzed carefully to the end with the aim of understanding a phenomenon or event experienced by the family farm laborers in the village of Bakung Pringgodani. The suggestions from this study are Farm workers' families are expected to be able to make or arrange a written financial plan so that it can facilitate the allocation of income and control expenses in order to fulfill the needs of family life. Abstrak Pengelolaan pendapatan dapat diketahui dari pola pendapatan dan pengeluaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pola pengelolaan pendapatan pada keluarga petani untuk memenuhi kebutuhan mereka, di Desa Bakung Pringgodani. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode studi kasus, dimana peneliti focus pada kasus-kasus yang dialami para keluarga petani di Desa Bakung Pringgodani. Data yang telah terkumpul diobservasi dan dianalisa untuk menjabarkan dan memahami fenomena yang dialami oleh para keluarga petani di Desa Bakung Pringgodani. Oleh karena itu, para keluarga petani disarankan untuk menyusun rencana keuangan tertulis untuk membantu pengalokasian pendapatan dan mengontrol pengeluaran dalam pemenuhan kebutuhan keluarga Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 ISSN 2798-1193 online DOI This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike International License. Pola pengelolaan pendapatan keluarga buruh tani dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup Feni Dwi Yulianti, Sri Umi Mintarti*, Wahjoedi, Yohanes Hadi Soesilo Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No. 5 Malang, Jawa Timur, Indonesia *Penulis korespondensi, Surel Paper received 25-8-2021; revised 8-9-2021; accepted 15-9-2021 Abstract Income management can be identified the pattern through income and expenditure streams. This study aims to determine the pattern of income management of farm labor families in Bakung Pringgodani Village in order to meet the needs of life. This research is a qualitative research with a case study method where researchers collect data will focus on a case encountered in a family of farm workers in Bakung Pringgodani Village. The obtained data were observed and analyzed carefully to the end with the aim of understanding a phenomenon or event experienced by the family farm laborers in the village of Bakung Pringgodani. The suggestions from this study are Farm workers' families are expected to be able to make or arrange a written financial plan so that it can facilitate the allocation of income and control expenses in order to fulfill the needs of family life. Keywords income management; living needs; financial planning Abstrak Pengelolaan pendapatan dapat diketahui dari pola pendapatan dan pengeluaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pola pengelolaan pendapatan pada keluarga petani untuk memenuhi kebutuhan mereka, di Desa Bakung Pringgodani. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode studi kasus, dimana peneliti focus pada kasus-kasus yang dialami para keluarga petani di Desa Bakung Pringgodani. Data yang telah terkumpul diobservasi dan dianalisa untuk menjabarkan dan memahami fenomena yang dialami oleh para keluarga petani di Desa Bakung Pringgodani. Oleh karena itu, para keluarga petani disarankan untuk menyusun rencana keuangan tertulis untuk membantu pengalokasian pendapatan dan mengontrol pengeluaran dalam pemenuhan kebutuhan keluarga Kata kunci pengelolaan pendapatan; kebutuhan hidup; rencana keuangan 1. Pendahuluan Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar wilayahnya dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Didukung dengan letak geografis dan iklim yang dimiliki oleh Indonesia, sehingga lahan yang ada sangat cocok untuk ditanami berbagai komoditas pertanian. Keadaan iklim di Indonesia menjadikan wilayah daratan di Indonesia sangat cocok untuk ditanami padi. Sebagian besar warga Indonesia yang tinggal di daerah pedesaan pun hidupnya sangat bergantung dengan sektor pertanian. Namun saat ini, banyak petani yang tidak memiliki lahan sendiri sehingga mereka pergi kesawah hanya sebagai pekerja atau buruh tani BPS, 201343. Buruh diartikan sebagai seseorang yang memiliki pekerjaan dalam bidang pertanian. Tetapi tidak turut menanggung resiko terhadap hasil panen. Buruh hanya bekerja memberikan jasa pada saat proses produksi mulai dari awal hingga masa panen dengan tujuan mendapatkan imbalan Raharjo, 2007146. Buruh tani dalam prosesnya hanya menjual jasa yang dimiliki kepada pemilik lahan persawahan untuk menggarap sawah dari mulai Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 825 penanaman bibit padi, perawatan padi, hingga pada masa panen tiba. Terkait sistem pengupahan, menurut Herlina Wati dan Charina Chazali ada tiga jenis sistem pengupahan petani, yaitu Sistem Upah Harian dimana jumlah upah yang diterima oleh buruh tani akan disesuaikan dengan lama waktu bekerja dan banyaknya hari kerja, Sistem Upah Borongan dimana jumlah upah yang diterima akan tergantung dengan jumlah buruh yang bekerja dalam satu bidang sawah, dan Sistem bagi hasil dimana jumlah yang diterima bergantung pada kesepakatan pembagian dengan pemilik lahan dari hasil produksi. Badan Pusat Statistik BPS menyatakan upah nominal buruh tani pada Oktober 2019 mengalami kenaikan 0,12% menjadi Rp. perhari. Apabila seorang buruh tani memperoleh upah sebesar Rp. per hari dan harus menghidupi seluruh anggota keluarganya, maka niscaya mereka akan berada di bawah garis kemiskinan. Apabila buruh tani bekerja selama 30 hari dalam satu bulan maka mereka akan menerima upah sejumlah Rp. dalam satu bulan. Dengan kondisi buruh tani yang sudah berumah tangga, maka pendapatan yang diproleh buruh tani akan tergolong kecil apabila dihadapkan dengan seluruh kebutuhan. Kehidupan buruh tani dinilai sulit, melihat mereka yang tidak menghasilkan banyak uang dari kerja keras yang telah mereka lakukan. Pendapatan yang diperoleh dari hasil aktivitas pertanian tidak seberapa, belum lagi adanya kemungkinan gagal panen yang bisa saja terjadi. Oleh karena itu, banyak buruh tani yang memiliki pendapatan lain dari pekerjaan sampingan lainnya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup yang bermacam-macam seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan kesehatan harus dipenuhi untuk keberlangsungan hidup. Akibat dari kebutuhan hidup yang tidak terbatas dan harus terpenuhi untuk menunjang kehidupan, mereka harus terus bekerja dengan keras dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarganya. Tuntutan untuk terus berjuang dalam memenuhi kebutuhan tersebut tak lain merupakan kegiatan pemenuhan kebutuhan untuk keberlangsungan hidup. Pendapatan rendah yang diperoleh buruh tani sebenarnya bukan menjadi satu-satunya masalah yang menimbulkan kesulitan yang dihadapi. Kemampuan dalam pengelolaan keuangan pun dianggap hal yang sangat penting. Kemampuan dalam pengelolaan keuangan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menghadapi keadaan sulit yang dapat terjadi sewaktu-waktu dan juga sangat dibutuhkan untuk mempersiapkan kehidupan di masa mendatang. Untuk itu, dalam memenuhi segala kebutuhan hidup diperlukan sebuah pengelolaan keuangan yang terencana dan matang. Pengelolaan keuangan merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan sumberdaya sebagai upaya untuk mengalokasikan pendapatan dan mengatur pengeluaran sebuah keluarga secara baik dan benar untuk mewujudkan tujuan-tujuan keuangan secara efektif dan efisien sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Dengan melakukan pengelolaan keuangan, keluarga dapat mengetahui berapa nilai uang yang diperoleh dari hasil kerja dan berapa nilai pengeluaran yang digunakan dalam pemenuhan kebutuhan. Dengan begitu, suatu keluarga bisa memaksimalkan pendapatan dan mengatur pengeluaran sehingga semua kebutuhan dapat terpenuhi. Desa Bakung Pringgodani terletak di wilayah barat Kabupaten Sidoarjo yang merupakan salah satu daerah yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 826 Sebagian besar dari petani di desa Bakung Pringgodani tidak memiliki lahan persawahan dan hanya bekerja sebagai buruh tani yang mengurus sawah dari proses penanaman hingga panen yang kemudian mendapatkan imbalan dengan sistem bagi hasil yang sesuai dengan kesepakatan awal dengan pemilik lahan persawahan. Pendapatan yang diperoleh dari hasil bertani yang tergolong kecil membuat buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki pekerjaan sampingan diluar sebagai buruh tani dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Pendapatan rendah dan tidak pasti yang diperoleh keluarga petani secara tidak langsung akan menimbulkan masalah keuangan dalam keluarganya. Untuk itu, buruh tani di Desa Bakung Pringgodani melakukan pengelolaan pada pendapatan yang mereka peroleh baik dari pekerjaan sebagai buruh tani maupun dari pekerjaan sampingan mereka guna untuk memenuhi kebutuhan mereka beserta keluarga. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pola Pengelolaan Pendapatan Keluarga Buruh Tani Dalam Rangka Memenuhi Kebutuhan Hidup” yang dilaksanakan di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo. 2. Metode Rancangan penelitian ini adalah rancangan penelitian kualitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus dimana peneliti mengumpulkan data akan terfokus pada suatu kasus yang ditemui dalam keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani yang kemudian dilakukan pengamatan dan analisis dengan cermat hingga tuntas. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo yang tidak memiliki lahan sendiri. Jumlah informan yang dipilih dalam penelitian ini dari keluarga buruh tani terdapat 8 keluarga dengan 16 informan yang terdiri dari sepasang suami istri dalam keluarga buruh tani. Pengumpulan data dengan menggunakan tiga teknik yaitu wawancara mendalam, observasi,dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah dengan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk pengecekan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi sumber. 3. Hasil dan Pembahasan Dari hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut Jumlah pendapatan yang diperoleh Buruh Tani dalam satu musim panen padi di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo dapat dikategorikan dalam golongan rendah. Pendapatan yang diperoleh dikategorikan rendah dikarenakan beberapa penyebab diantaranya yaitu periode musim panen yang hanya terjadi dua kali dalam satu tahun, sistem bagi hasil, dan jumlah masing-masing bidang yang digarap oleh buruh tani. Berikut tabel pendapatan keluarga buruh tani dari hasil panen padi selama satu musim di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 827 Tabel 1. Pendapatan Hasil Tani Keluarga Buruh Tani Tertinggi Terendah 1. Sutono Rp. Rp. 2. Sarpan Rp. Rp. 4. Ngatemo Rp. Rp. 5. Kusno Aji Rp. Rp. 7. Samingan Rp. Rp. 8. Suyadi Rp. Rp. Sumber Hasil wawancara buruh tani Desa Bakung Pringgodani Dari tabel diatas dapat diketahui jika pendapatan yang diperoleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani jauh dibawah UMK Sidoarjo sehingga dapat disimpulkan jika pendapatan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo tergolong rendah. Buruh Tani memperoleh pendapatan dari hasil panen hanya di musim panen saja, dimana musim panen padi hanya terjadi dua kali dalam satu tahun. Sebagian besar Buruh Tani di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo memiliki pendapatan lain yang diperoleh diluar dari bertani, hal ini dilakukan untuk menutupi kebutuhan yang belum terpenuhi. Pekerjaan para informan selain menjadi Buruh Tani di musim padi sangat beragam, seperti bekerja serabutan, pekerja lepas, kuli bangunanatau membuka usaha sendiri seperti berjualan dan membuka warung kopi. Pendapatan yang diperoleh para informan selain menjadi Buruh Tani diterima secara harian berkisar antara Rp. – perharinya. Berikut tabel pendapatan dari pekerjaan sampingan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo Tabel 2. Pendapatan Sampingan Keluarga Buruh Tani Pekerjaan Sampingan Pendapatan/hari 1. Sutono Pekerja serabutan Rp. 2. Sarpan Pegawai tidak tetap Rp. 4. Ngatemo Pekerja serabutan Rp. 5. Kusno Aji Berdagang Rp. 7. Samingan Berdagang Rp. 8. Suyadi Kuli Bangunan Rp. Sumber Hasil wawancara buruh tani Desa Bakung Pringgodani Dilihat dari tabel diatas menunjukkan bahwa pendapatan yang diperoleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani dari pekerjaan sampingan rata-rata dibawa Upah Minimum Kabupaten UMK yaitu dalam satu bulan dengan 26 hari efektif bekerja pendapatan berkisar antara Rp. – sedangkan upah minimum Kabupaten Sidoarjo sebesar Rp. Jumlah pendapatan dari pekerjaan sampingan tersebut tergolong dalam kategori rendah karena masih dibawah rata-rata UMK Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 828 Pendapatan keluarga buruh tani dari kegiatan bertani maupun pekerjaan sampingan berkisar antara Rp. – sedangkan upah minimum Kabupaten Sidoarjo sebesar Rp. Jadi jumlah pendapatan keluarga buruh tani tiap bulannya tersebut masih tergolong dalam kategori rendah karena masih dibawah rata-rata UMK Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwasanya keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani dalam pengelolaan pendapatan keluarga, ditemukan terdapat 3 macam pola yang diterapkan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani dalam mengelola pendapatan, yaitu Pola 1 Pendapatan dari hasil panen dan pendapatan dari pekerjaan sampingan digabungkan dan dialokasikan untuk membiayai seluruh kebutuhan baik yang bersifat primer, sekunder dan tersier. Gambar 1. Pola 1 Aliran Pendapatan dan Pengeluaran Pola 2 Pendapatan diluar musim panen yang dialokasikan untuk membiayai kebutuhan primer, sedangkan pendapatan dari hasil panen dialokasikan untuk membiayai kebutuhan yang bersifat sekunder dan tersier. Gambar 2. Pola 2 Aliran Pendapatan dan Pengeluaran Pola 3 Pendapatan di musim panen dialokasikan untuk membiayai kebutuhan yang bersifat primer, sedangkan pendapatan diluar musim panen dialokasikan untuk membiayai kebutuhan yang bersifat sekunder dan tersier. Pendapatan hasil panen dan pendapatan Primer Sekunder Tersier Pendapatan Hasil Panen Primer Sekunder Tersier Pendapatan Sampingan Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 829 Gambar 3. Pola 3 Aliran Pendapatan dan Pengeluaran Pendapatan Keluarga Buruh Tani Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki kedua tipe pendapatan, yaitu pendapatan dari aktivitas bertani dan pendapatan dari pekerjaan sampingan mereka. Memiliki pekerjaan sampingan di samping pekerjaan utama mereka sebagai buruh tani ini karena dorongan faktor kebutuhan yang masih belum dapat terpenuhi apabila hanya mengandalkan pendapatan dari aktivitas pertanian yang tergolong bernilai sedikit apabila disandingkan dengan seluruh kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, sebagian besar buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki pekerjaan sampingan di samping menjadi buruh tani di sawah. Jumlah pendapatan yang diperoleh Buruh Tani dalam satu musim panen padi di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo dapat dikategorikan dalam golongan rendah. Pendapatan yang diperoleh dikategorikan rendah dikarenakan beberapa penyebab diantaranya yaitu periode musim panen yang hanya terjadi dua kali dalam satu tahun, sistem bagi hasil, dan jumlah masing-masing bidang yang digarap oleh buruh tani. Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani menerima hasil yang tidak seberapa daripada aktivitas bertaninya. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi penyebab jumlah perolehan pendapatan yang diperoleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani dari hasil pertanian mereka bernilai sedikit, yaitu sebagai berikut Periode Musim Panen, buruh tani di Desa Bakung Pringgodani akan bekerja di sawah pada saat musim tanam padi di mulai. Mereka melakukan pembibitan, penanaman, perawatan tanaman padi, hingga proses pemanenan dengan waktu yang tidak sebentar. Sehingga dalam kurun waktu satu tahun, petani di Desa Bakung Pringgodani hanya dapat memanen padi sebanyak dua kali. Dapat diketahui apabila fase penanaman padi hingga panen membutuhkan waktu tunggu yang cukup lama. Tanaman padi bisa dilakukan pemanenan apabila sudah berusia sekitar 4 bulan dengan waktu tunggu 2 bulan tiap berganti musim. Sehingga periode tanam dan panen padi dalam satu tahun hanya terjadi dua kali hal ini sejalan dengan temuan Eva Gusmina, Try Susanti dan Arif Ma’rufi 2018 menyatakan bahwasanya di Kecamatan Danau pola tanam padi bisa dilakukan dua kali yaitu di awal tahun Februari dan akhir tahun November sedangkan periode panen terjadi dua kali yaitu di awal tahun Februari dan pertengahan tahun Juni. Begitu pula di Desa Bakung Pringgodani, periode panen hanya terjadi dua kali setiap tahunnya. Dengan begitu keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani hanya memperoleh pendapatannya selama satu tahun hanya sebanyak dua kali yaitu saat periode musim panen berlangsung. Pendapatan yang hanya diperoleh dua kali dalam satu tahun oleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani tergolong sangat kurang apabila digunakan untuk mencukupi Pendapatan Sampingan Primer Sekunder Tersier Pendapatan Hasil Panen Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 830 seluruh kebutuhan keluarga setiap harinya. Dimana mereka hanya menerima pendapatan saat musim panen tiba tetapi kebutuhan keluarga yang setiap hari harus dipenuhi untuk terus bertahan hidup. Sistem Bagi Hasil, buruh tani di Desa Bakung Pringgodani tidak memiliki lahan persawahan mereka sendiri, melainkan menggarap lahan persawahan milik orang lain. Dimana sebelumnya terdapat kesepakatan antara buruh tani penggarap dan pemilik lahan mengenai sistem bagi hasil. Dalam prosesnya, seluruh biaya produksi dan aktivitas penanaman bibit hingga panen menjadi tanggung jawab buruh tani sepenuhnya, pemilik lahan hanya menyediakan lahan untuk ditanami padi. Ketika periode panen tiba, hasil gerabah yang diperoleh akan dibagi antara pemilik lahan dan juga buruh tani sebagai penggarap sesuai kesepakatan diawal hal ini sesuai dengan pernyataan Dwi Wahyuni 2016 yang menyatakan bahwa dalam sistem bagi hasil pengupahan kerja dalam aktivitas pertanian diawali dengan perjanjian atau kesepakatan oleh pemilik lahan dengan penggarap sawah, dimana penggarap sawah akan melakukan suatu usaha tertentu dalam proses pertanian tanpa dibayar secara langsung, tetapi penggarap sawah memiliki hak untuk memanen hasil pertanian padi dan mengambil sebagian hasil panen yang diperoleh sesuai dengan kesepakatan di awal. Dengan seluruh biaya produksi yang dikeluarkan selama proses penanaman hingga panen oleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani menjadikan buruh tani menanggung risiko yang besar apabila terjadi kegagalan panen atau puso. Karena ketika terjadi puso maka buruh tani terancam tidak mendapatkan apa-apa selain hasil panen yang sedikit hal ini sejalan dengan pernyataan Dwi Wahyuni 2016 bahwasannya ketika terjadi kegagalan panen buruh tani adalah orang yang paling dirugikan dikarenakan terancam tidak memperoleh hasil panen dan juga tidak menerima upah berupa uang tunai karena bekerja dengan sistem bagi hasil. Selain itu, dengan adanya sistem bagi hasil, jika terjadi kegagalan panen atau puso apabila hasil panen yang diperoleh sedikit, maka akan menjadi semakin sedikit karena masih harus dibagi dengan pemilik lahan sesuai dengan kesepakatan di awal. Jumlah Bidang Garapan, beberapa buruh tani di Desa Bakung Pringgodani menggarap lebih dari satu bidang sawah milik orang agar memperoleh hasil panen yang melimpah saat periode panen tiba. Karena pendapatan yang diperoleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani dalam satu periode musim panen dipengaruhi oleh berapa bidang sawah yang tengah digarap. Semakin banyak bidang sawah yang digarap selama satu musim panen maka semakin tinggi pendapatan yang diperoleh karena lahan sawah yang dipanen semakin luas sehingga memperoleh hasil panen dengan jumlah yang lebih banyak dan sebaliknya semakin sedikit bidang sawah yang digarap maka akan semakin rendah pendapatan yang diperoleh karena lahan sawah yang dipanen sedikit sehingga memperoleh hasil panen dengan jumlah yang lebih sedikit, hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sri Endah Nurzanah, Moral Abadi Girsang, dan Khadijah El Ramija 2020 menyatakan bahwa luas panen berkorelasi positif terhadap hasil produksi sawah di Kabupaten Serga. Juga sejalan dengan Sari dan Minahju 2016 yang menyatakan bahwa luas panen menyumbang andil besar untuk produksi padi. Dan juga sejalan dengan pernyataan Jumiati 2016 bahwa peningkatan luas panen dapat meningkatkan produksi padi Kecamatan Sinjai Selatan. Semakin banyak bidang sawah yang digarap oleh buruh tani dalam satu waktu maka akan mendatangkan hasil panen yang besar bagi mereka dikarenakan luas daerah panen yang banyak. Sehingga akan mendatangkan keuntungan yang berlimpah bagi buruh tani. Dan Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 831 sebaliknya apabila sedikit bidang yang digarap maka kemungkinan besar hasil perolehan panen pun juga sedikit karena luas panen yang kecil. Sehingga pendapatan yang diperoleh pun juga sedikit. Beberapa faktor diatas merupakan salah satu penyebab kecilnya pendapatan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani. Status sebagai buruh tani yang tidak memiliki lahan harus melakukan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan menjadikan faktor paling utama kecilnya pendapatan dari hasil aktivitas pertanian yang tergolong rendah apabila dihadapkan untuk memenuhi begitu banyak kebutuhan rumah tangga sehingga memaksa buruh tani di Desa Bakung Pringgodani untuk mendatangkan pendapatan selain kerja sebagai buruh tani. Dimana buruh tani memiliki pekerjaan sampingan sebagai pekerja serabutan, pegawai tidak tetap, berdagang, dan kuli bangunan untuk memperoleh penghasilan tambahan guna untuk mencukupi kebutuhan yang belum bisa tercover sepenuhnya oleh pendapatan yang diperoleh dari hasil aktivitas pertanian. Oleh karena itu, buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki pekerjaan sampingan yang membawa dampak positif dalam kondisi keuangan keluarga. Namun, pekerjaan sampingan yang dilakukan oleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani pun juga tidak menghasilkan pendapatan yang begitu besar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu sebagai berikut. Tingkat Pendidikan, sebagian besar buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki tingkat pendidikan yang rendah. dengan pendidikan terakhir Sekolah Dasar SD hingga Sekolah Menengah PertamaSMP. Tingkat pendidikan yang tergolong rendah tersebut membuat buruh tani sulit hingga tidak mampu mendapatkan pekerjaan sampingan yang lebih memadai. Dengan pekerjaan sampingan yang tidak cukup memadai maka pendapatan yang diperoleh pun tergolong sedikit pula. Hal ini sejalan dengan pernyataan Dedi Julianto dan Puti Annisa Utari 2019 bahwa pekerja dengan pendidikan yang lebih rendah mempunyai pendapatan yang rendah dibandingkan dengan pekerjaan yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Keterampilan dalam bekerja merupakan kemampuan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang dapat dikuasai dari pembelajaran atau bantuan orang lain. Buruh tani di Desa Bakung Pringgodani karena bertani merupakan profesi mereka maka keterampilan yang dimiliki hanya dalam lingkup aktivitas pertanian sehingga dalam bekerja sampingan tidak bisa memperoleh pendapatan yang maksimal dikarenakan keterampilan buruh tani dalam pekerjaan lain dinilai biasa saja sehingga mempengaruhi produktivitas dalam bekerja yang membuat pendapatan yang diperoleh tidak bisa maksimal. Hal ini sejalan dengan penelitian Wiwin Wiranti 2016 yang menyatakan bahwa secara individu keterampilan memiliki pengaruh terhadap produktivitas kerja. Dimana kemampuan keterampilan yang baik dan stabil dapat mendorong produktivitas kerja sehingga secara otomatis bisa memaksimalkan pendapatan. Usia menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat pendapatan. Kekuatan fisik dalam dalam melakukan aktivitas akan sangat berkaitan erat dengan usia, karena jika usia telah melewati masa produktif maka akan semakin menurun kekuatan fisik yang ada sehingga tingkat produktivitas dalam bekerja juga berkurang yang bisa berakibat pada pendapatan yang diperoleh. Hampir seluruh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani sudah lanjut usia dan tidak berada dalam usia produktif, sehingga dalam bekerja kurang maksimal sehingga pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sampingan tergolong masih rendah. Hal ini sesuai dengan Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 832 pernyataan Arya Dwianda dan Nyoman Djinar Setiawina 2013 bahwa seseorang yang berada dalam usia produktif akan mampu memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang berada di usia non produktif. Beberapa faktor tersebut yang menjadi penyebab pendapatan buruh tani dari pekerjaan sampingan mereka yang tergolong kecil. Pekerjaan sampingan ini dilakukan oleh buruh tani adalah untuk menambah pendapatan dari aktivitas pertanian yang rendah dalam memenuhi kebutuhan keluarga seperti biaya pangan, sandang, biaya pendidikan anak, biaya listrik, biaya untuk berobat, biaya untuk membayar arisan, dan biaya untuk membayar hutang. Dan pekerjaan sampingan yang dimiliki oleh buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki kontribusi yang cukup berarti dalam memenuhi kebutuhan dan meningkatkan taraf hidup bagi keluarga agar lebih sejahtera. Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki dua sumber pendapatan, dimana terdiri dari pendapatan dari aktivitas bertani dan pendapatan dari pekerjaan sampingan. Seluruh pendapatan yang diperoleh baik dari aktivitas pertanian maupun dari pekerjaan sampingan akan menjadi pendapatan keluarga yang akan dialokasikan untuk biaya kebutuhan hidup. Apabila keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani hanya mengandalkan pendapatan yang diperoleh dari hasil pertanian maka niscaya seluruh kebutuhan hidupnya tidak akan mampu terpenuhi karena pendapatan dari hasil panen yang tergolong kecil. Dengan adanya pendapatan yang diperoleh keluarga buruh tani dari pekerjaan sampingan sebagai pekerja serabutan, pegawai tidak tetap, atau sebagai pelaku usaha kecil akan menambah nilai nominal yang didapatkan sehingga mampu menutupi kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan yang masih belum terpenuhi dari pendapatan yang diterima dari hasil pendapatan sebagai buruh tani. Pola Pengelolaan Pendapatan Keluarga Buruh Tani Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani seringkali menghadapi guncangan ekonomi dalam rumah tangga mereka apabila terjadi puso yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan hasil apapun dari pertanian. Sedangkan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki kebutuhan yang tidak sedikit untuk menunjang kehidupan mereka. Kebutuhan keluarga dari buruh tani di Desa Bakung Pringgodani yaitu meliputi 1 kebutuhan primer diantaranya kebutuhan pokok rumah tangga, kebutuhan akan listrik, keperluan untuk membayar arisan dan kredit, 2 kebutuhan sekunder diantaranya kebutuhan untuk biaya pendidikan anak, biaya pengobatan, alat transportasi, perabotan rumah tangga, biaya pulsa dan uang jajan, dan 3 kebutuhan tersier ini kebutuhan akan barang mewah diantaranya perhiasan emas. Dengan begitu buruh tani di Desa Bakung Pringgodani memiliki pekerjaan lain selain menjadi buruh tani sebagai penghasilan tambahan dalam rangka untuk mencukupi kebutuhan hidup rumah tangga mereka yang tidak sedikit. Dengan memiliki dua sumber penghasilan tak pelak membuat kehidupan buruh tani di Desa Bakung Pringgodani membaik. Pendapatan dari pertanian yang kadang kala tidak stabil dan pendapatan dari pekerjaan sampingan yang tidak begitu besar terkadang membawa mereka dalam kesulitan. Dengan melihat pendapatan yang diterima dan pengeluaran akan kebutuhan yang diperlukan oleh keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani ditemukan bawasanya terdapat 3 macam pola yang diterapkan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani dalam mengelola pendapatan dalam rangka untuk memenuhi berbagai macam Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 833 kebutuhan rumah tangga. Pola yang diterapkan berdasarkan pada aliran pendapatan dan pengeluaran. Dimana pendapatan yang masuk akan dialokasikan untuk pengeluaran akan kebutuhan apa saja. Berikut merupakan pola pengelolaan pendapatan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya Menggabungkan seluruh pendapatan keluarga untuk memenuhi seluruh kebutuhan Pola 1. Keluarga buruh tani yang dalam pengelolaan pendapatannya dengan menggabungkan seluruh pendapatan baik pendapatan hasil panen dan pendapatan sampingan untuk membiayai segala macam kebutuhan hidup keluarga dikarenakan dengan menggabungkan pendapatan dapat untuk mempermudah dalam mengalokasikan pendapatan dan mempermudah dalam mengatur pengeluaran untuk pemenuhan seluruh kebutuhan hidup. Selain itu, apabila seluruh pendapatan yang diperoleh digabungkan dan dikelola oleh satu orang akan lebih efektif dalam pengalokasian dan mengontrol keuangan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Wahyu Putri Lestari 2020 bahwa penggabungan pendapatan dilakukan untuk mempermudah alokasi pengeluaran dan pengontrolan karena dilakukan oleh satu orang. Dengan menggabungkan pendapatan yang diperoleh akan mempermudah pengalokasian uang yang keluar untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani menerapkan pola pengelolaan dengan cara menggabungkan seluruh pendapatan keluarga ini karena lebih mudah dalam mengatur pendapatan yang masuk dan pendapatan yang keluar untuk dialokasikan pada pemenuhan seluruh kebutuhan keluarga. Pendapatan dari aktivitas bertani dan pekerjaan sampingan yang telah digabung ini digunakan untuk membiayai seluruh kebutuhan baik kebutuhan yang bersifat primer, sekunder maupun tersier. Penggabungan pendapatan ini dilakukan untuk mempermudah alokasi pendapatan dan pengontrolan pengeluaran yang dilakukan oleh satu orang yaitu biasanya oleh ibu rumah tangga. Mengkhususkan pendapatan sampingan untuk kebutuhan primer dan pendapatan bertani untuk kebutuhan sekunder dan tersier Pola 2. Keluarga buruh tani yang melakukan pengelolaan pendapatan dengan pola 2 ini memiliki jumlah pendapatan sampingan yang lebih besar dan stabil dari pendapatan yang diperoleh dari hasil panen yang tidak dapat diprediksi tiap musim panennya. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Putri Lestari 2020 menyatakan bahwa pendapatan yang jumlahnya lebih besar dan tetap setiap bulannya lebih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani menerapkan pola pengelolaan dengan mengkhususkan pendapatan sampingan untuk kebutuhan yang bersifat primer dikarenakan pendapatan dari pekerjaan sampingan yang diperoleh keluarga buruh tani lebih stabil dan dengan jumlah yang lebih besar sehingga dialokasikan untuk kebutuhan primer yang sifatnya harus segera dipenuhi demi kelangsungan hidup. Sedangkan pendapatan yang diperoleh dari aktivitas bertani yang tidak bisa diprediksi jumlahnya dialokasikan untuk kebutuhan sekunder maupun tersier yang sifat pemenuhannya tidak wajib. Selain itu dengan mengkhususkan tiap-tiap pendapatan untuk masing-masing kebutuhan, kita akan lebih mengetahui dengan rinci aliran pendapatan dan pengeluaran keuangan keluarga. Mengkhususkan pendapatan bertani untuk kebutuhan primer dan pendapatan sampingan untuk kebutuhan sekunder dan tersier Pola 3. Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani yang melakukan pengelolaan pendapatan seperti pola 3 ini disebabkan Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 834 karena pendapatan yang diperoleh dari hasil bertani memiliki jumlah yang lebih besar dari pada pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sampingan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Putri Lestari 2020 menyatakan bahwa pendapatan yang jumlahnya lebih besar dan tetap setiap bulannya lebih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani menerapkan pola pengelolaan dengan mengkhususkan pendapatan dari aktivitas bertani untuk kebutuhan yang bersifat primer dikarenakan pendapatan dari hasil tani yang diperoleh keluarga buruh tani memiliki jumlah yang lebih besar sehingga dialokasikan untuk kebutuhan primer yang sifatnya harus segera dipenuhi demi kelangsungan hidup. Sedangkan pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan sampingan yang jumlahnya tidak terlalu besar dialokasikan untuk kebutuhan sekunder maupun tersier yang sifat pemenuhannya tidak wajib. Selain itu dengan mengkhususkan tiap-tiap pendapatan untuk masing-masing kebutuhan, kita akan lebih mengetahui dengan rinci aliran pendapatan dan pengeluaran keuangan keluarga. Dengan ketiga pola tersebut buruh tani di Desa Bakung Pringgodani mengelola pendapatannya guna untuk mengatur keuangan dalam keluarga mereka sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Pola tersebut terlihat dari aliran pendapatan dan pengeluaran dari masing-masing keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani. Dimana masing-masing keluarga memiliki polanya masing-masing, tergantung bagaimana cara mereka mengalokasikan pendapatannya sehingga dapat membentuk ketiga pola diatas. 4. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini adalah sebagai berikut 1 Pendapatan keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani ini terdiri dari pendapatan dari aktivitas bertani dan pendapatan dari pekerjaan sampingan. 2 Keluarga buruh tani di Desa Bakung Pringgodani Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo ditemukan 3 pola pengelolaan pendapatan keluarga, yaitu Pola 1 Menggabungkan seluruh pendapatan keluarga untuk memenuhi seluruh kebutuhan, Pola 2 Mengkhususkan pendapatan sampingan untuk kebutuhan primer dan pendapatan bertani untuk kebutuhan sekunder dan tersier, dan Pola 3 Mengkhususkan pendapatan bertani untuk kebutuhan primer dan pendapatan sampingan untuk kebutuhan sekunder dan tersier. Daftar Rujukan Abdurachman, A., A. Mulyani, dan N. L. Nurida. 2009. Kondisi dan Antisipasi Keterbatasan Lahan Pertanian di Pulau Jawa. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian 24 283-285. Agustina Shinta. 2011. Ilmu Usahatani. Malang Universitas Brawijaya Press. Anniyah, Hidayatul., Agus Muliadi. 2018. Strategi Buruh Tani Dalam Memenuhi Kebutuhan Pendidikan Anak Di Desa Karang Baru Batu Rente Kecamatan Wanasaba kabupaten Lombok Timur. Jurnal Geodika Hal 1-6. Badan Pusat Statistik. 2013. Jumlah Usahatani Indonesia 2003-2013. Survei Pertanian Indonesia Hlm 43. Badan Pusat Statistik. 2014. Indikator Kesejahteraan Rakyat. Badan Pusat Statistik. Jakarta Badan Pusat Statistik. 2019. Perkembangan Upah Pekerja/Buruh. Berita Resmi Statistik No. 93/11/Th. XXII, Bakri, Anggi Hadi Sovian. 2018. Strategi Buruh Tani Dalam Memenuhi Kebutuhan Pokok Studi Pada Buruh Tani di Dusun Calok, Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Universitas Jember Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan, 19, 2021, 824-835 835 DITJEN PMPTK. 2008. Pendekatan, Jenis, dan Metode Penelitian Pendidikan. online Dwianda, Arya dan Nyoman Djinar Setiawina. 2013. Pengaruh Umur, Pendidikan, Pekerjaan Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Miskin di Desa Bebandem. E-Jurnal EP Unud, 2 [4] 173-180. Erleni, Saputri. 2015. Peranan Usaha Perabot Kayu Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Menurut Ekonomi Islam Studi Kasus Desa Kualu Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar. Skripsi. Riau Universitas Negeri Islam Sultan Syarif Kasim Riau. Ggarg, Taruna. 2011. Budgeting as a Means to Manage Household Finances. BVIMSR 32 1-17. Gusmira, E., Susanti, T., & Ma’rufi, A. 2018. Model Fuzzy Logic Berbasis Anfis Dalam Penentuan Pola Tanam Oryza Sativa. Al-Kauniyah, 112, 171-182. Iskandar. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan dan Sosial Kuantitatif Dan Kualitatif. Jakarta GP. Press. Julianto, Dedi dan Puti Annisa Utari. 2019. Analisa Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Pendapatan Individu Di Sumatera Barat. Ikraith Ekonomika Vol 2 No 2. Lestari, Yeni., Sri Hartati, dan Heni Nopianti. 2016. Pemenuhan Kebutuhan Hidup Rumah Tangga Petani Miskin Studi Kasus pada Petani Penggarap di Dusun II Talang Watas Desa Muara Langkap Kecamatan Bermani Ilir, Kabupaten Kepahiang. Jurnal Sosiologi Nusantara Pratama, Putra. 2019. Analisis Pengelolaan Keuangan Keluarga Buruh Tani Dalam Rangka Mempersiapkan Pendidikan Anak. Universitas Negeri Malang Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Rahardjo Mudjia. 2007. Sosiologi pedesaan "studi perubahan sosial. Malang UIN Malang Press Ridwan. 2015. The HandBook of Family Financial Planning Mengelola Keuangan Keluarga Secara Islami. FEBI UN-SU Press. Rini, Mike. 2009. Perencanaan Keuangan Bagi Buruh Migran Perempuan. SMK Grafika Desa Putra. Rostiana, Endang dan Horas Djulius. 2018. Perencanaan dan Pengelolaan Keungan Dalam MewujudkanKeluarga Sejahtera. Yogyakarta Diandra Kreatif. Santoso, Slamet. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial. Bandung Refika Aditama. Senduk, Safir. 2000. Seri Perencanaan Keuangan Keluarga Mengelola Keuangan Keluarga. Jakarta PT Elex Media Komputindo. Setiaji, Hidayat. 2019. RI Terancam Krisis Petani, Upah Kecil & Miskin Terus. Online Sugiyono. 2019 Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta. Susilowati, Sri Hery, Supadi, dan Chaerul Saleh. 2002. Diversifikasi Sumber Pendapatan Rumah Tangga Di Pedesaan Jawa Barat. Journal of Agricultural Economy 201 85-109. Wahyuni, Dwi. 2016. Analisis Sistem Pengupah “Bawon” Pada Pertanian Padi Studi Kasus Pada Petani di Desa Gambar Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar. Jurnal Bisnis, Manajemen & Perbankan Vol. 2 No. 2. Wati, Herlina dan Charina Chazali. 2013. Sistem Pertanian Padi Indonesia dalam Perspektif Efisiensi Sosial. AKATIGA, Pusat Analisis Sosial. Wiranti, Wiwin. 2016. Pengaruh Keterampilan Terhadap Produktivitas Kerja Karywan Pada Konveksi Istana Mode Madiun. Equilibrium, Volume 4, Nomor 1. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this WahyuniAs an agricultural country, agricultural sector plays an important role in the Indonesia economic life, especially in rural areas. Farm laborers as one component of the agricultural sector, have a considerable contribution in determining the success of this sector. But there are unique facts occur in Blitar Regency, one of which happened in Gambar, Wonodadi District, Blitar Regency related to wage system called "bawon" system when harvesting rice. The "bawon" system is a profit-sharing system given to farm laborers working on a patch of land from the start of the rice planting to the harvest, whose share of income depends on the area of cultivated land and the number of harvest yields. The purpose of this research is to analyze the Bawon system that is still done between the landowners and farm workers in the Village Picture District Wonodadi Blitar. This research used descriptive explorative statistical approach to provide an in-depth description of the Bawon system. To analyze the data obtained, the researchers used Component Analysis Componential Analysis technique, in which the researcher attempted to sort and illustrate the differences found in the data obtained from the field. The results showed that farm laborers earn 20% of the total grain yield when finished harvesting the crops, while 80% is the land owner' Wirantip>This study aims to determine tbe Employee Skills in the Konveksi Istana Mode Madiun, to determine Employee Productivity in the Konveksi Istana Mode Madiun, as well as to determine the presence or absence of Vocational Effect on Productivity Among Employees at the Konveksi Istana Mode Madiun. The samples in this study is purposive sampling technique that all employees at the Konveksi Istana Mode Madiun part of convection, amounting to 30 people. Data collection using questionnaires, documentation and analyzing the data using statistical methods Product Moment, To test this hypothesis using the r test, F test and t test. The results of the regression analysis ofY = a +bX, the result Y = 11,737 + 0,757X, to test that rcount > r liable > or may be rejected HO means that there is a skills significant relationship with work productivity of employee at the Konveksi Istana Mode Madiun. Furthermore, also obtained results which indicate that the F test ofF count >F table 44,5752 or ;;Sighit Sigprob 0,000 ;; Thus HO is rejected, it means there is an overall effect of skills on labor productivity at the Konveksi Istana Mode Madiun. In addition, the t-test results obtained thit> ttab > or Sig hit < Sig prob < this situation can be said to be no different from the effect of employee skills on work productivity of employee at the Konveksi Istana Mode Madiun.11 tahun berjumlah 3 orang responden dengan persentase 30%. Dengan adanya pengalaman berusaha ini akan mempermudah responden untuk mengambil keputusan yang berhubungan dengan usaha pemasaran. Jumlah Hari Responden bekerja dalam Satu bulan Jumlah hari responden bekerja dalam satu minggu berpengaruh terhadap pendapatan Responden semakin banyaknya hari bekerja semakin meningkatkan pendapatan Responden tersebut. Tabel 6. Jumlah Hari Responden bekerja dalam Satu Minggu Sumber Data diperoleh dari data primer, 2020 Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah hari kerja responden dalam satu minggu 12 hari berjumlah 3 orang Responden dengan persentase 30%, selanjutnya 16 hari kerja berjumlah 4 orang responden dengan persentase 40% dan 20 hari kerja berjumlah 3 orang responden dengan persentase 30%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah hari kerja responden yang terbanyak adalah 16 hari kerja dalam satu minggu, dalam hal ini responden bisa meluangkan waktunya dengan hal-hal yang lain seperti menggunakan waktu untuk beristirahat ketika dagangan mereka lagi sepi/tidak ada pembeli. Deskripsi Ibu Rumah Tangga Penjual Aksesoris Penjual Aksesoris di Objek wisata Bukit Kasih adalah orang asli Desa Kanonang. Penjual Aksesoris menjual sendiri barang dagangannya dan tidak memiliki tenaga kerja. Ibu rumah tangga penjual akseoris yang ada di Bukit Kasih menjual barang dagangannya menggunakan wadah dari plastik karena tidak memiliki kios dagang Pedagang yang ada di Bukit Kasih biasanya menawarkan Aksesoris di sekitar tugu nilai lima agama.. Ibu rumah tangga penjual Aksesoris di bukit kasih sebagian besar membuat gelang yang dijual dengan bahan baku utama yaitu batok kelapa. Tabel 5. Lama Berkerja Responden Sumber Data diperoleh dari data primer, 2020 Agri-SosioEkonomi Unsrat, ISSN p 1907– 4298, ISSN e 2685-063X, Terakreditasi Jurnal Nasional Sinta 5, Volume 16 Nomor 3, September 2020 421 - 430 Agrisosioekonomi Jurnal Transdisiplin Pertanian Budidaya Tanaman, Perkebunan, Kehutanan, Peternakan, Perikanan, Sosial dan Ekonomi Batok kelapa yang ada di dapat dari kebun atau dari petani lain yang memiliki kebun kelapa. Selain gelang dari batok kelapa adapula gelang, kalung, cincin, dan anting-anting yang dijual dengan mengambil ke penjual aksesoris di Kota Manado. Penjualan Aksesoris awalnya berjumlah 50 orang namun akhir-akhir ini mulai menurun karena objek wisata Bukit Kasih Kanonang yang saat ini sudah mulai berkurang kunjungan dari wisatawan. Kontribusi Ibu Rumah Tangga Kontribusi ibu rumah tangga yang dimaksud adalah menghitung berapa besar kontribusi yang diberikan ibu rumah tangga dalam pendapatan keluarga, dengan melihat pendapatan suami, pendapatan anak, dan pendapatan yang di dapat dalam usaha lainnya. Tabel 7. Rata-rata Harga Beli dan harga jual Per Jenis Aksesoris Sumber Data diperoleh dari Data Primer, 2020 Tabel 8. Rata-rata Biaya yang dikeluarkan dalam usaha menjual Akseosris Modal dalam menjual aksesoris Biaya Transportasi, makanan, dll Sumber Data diperoleh dari Data Primer, 2020 Tabel 8, menunjukkan bahwa modal yang dikelurkan ibu-ibu penjual aksesoris yaitu mulai dari sampai kemudian biaya transportasi, makan dll yaitu mulai dari sampai tetapi ada juga responden yang tidak mengeluarkan biaya karena suami dari responden juga bekerja di kawasan wisata Bukit Kasih kanonang sebagai fotografer sehingga responden tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi dan makan. Biaya pengeluaran dari responden yang paling besar yaitu dan yang paling kecil yaitu Tabel 9. Rata-rata Penghasilan yang didapat IRT Penjual Aksesoris Jumlah Aksesoris Yang Terjual Per Bulan Sumber Data diperoleh dari Data Primer, 2020 Tabel 9 menunjukkan bahwa penghasilan terbanyak responden penjual aksesoris yaitu Rp. dengan jumlah yang terjual yaitu 51 Aksesoris perbulan dan penghasilan yang paling sedikit didapat responden yaitu dengan jumlah 8 aksesoris yang terjual per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan responden yang paling sedikit dikarenakan responden tersebut jarang menjual aksesoris dan aksesoris yang dijual hanya sedikit sehingga pendapatan yang didapat masih terlalu kecil. Pendapatan Istri Pendapatan merupakan sumber penghasilan seseorang yang memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup dan penghidupan seseorang secara langsung maupun tidak langsung. Tabel 10. Jumlah Pendapatan Responden Sumber Data diperoleh dari data primer, 2020 Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga…………….............................Gloria Lopulalang, Mex Sondakh, Melsje Memah Tabel 10. Menunjukkan bahwa pendapatan terbesar responden penjual aksesoris yaitu dan pendapatan terkecil responden penjual aksesoris yaitu Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan responden yang tidak begitu besar dikarenakan responden tersebut tidak sepenuhnya menjual aksesoris, hanya 12 hari kerja dalam satu bulan sehingga pendapatan yang didapat tidak begitu besar. Pendapatan Suami Pendapatan Suami yaitu pendapatan yang didapat dari suami dari pekerjaan yang dikerjakannya. Tabel 11. Jumlah Pendapatan menurut jenis pekerjaan Sumber data diperoleh dari data primer, 2020 Tabel 11 menunjukkan bahwa Pekerjaan Fotografer jumlah 2 orang dengan rata-rata pendapatan Rp. Pekerjaan petani jumlah 3 orang responden dengan rata-rata pendapatan Rp. Pekerjaan Tukang kayu dengan rata-rata pendapatan Pekerjaan Bas Bangunan jumlah 2 orang dengan rata-rata pendapatan Pekerjaan Buruh jumlah 1 orang responden dengan rata-rata pendapatan dan pekerjaan Montir jumlah 1 orang responden dengan rata-rata pendapatan Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dilihat bahwa pendapatan terbanyak dari pekerjaan suami yaitu pekerjaan sebagai petani. Pendapatan Anak Pendapatan Anak adalah pendapatan yang di dapat dari anak yang sudah bekerja atau mendapatkan pendapatan lainnya berupa Beasiswa, dan lain-lain. Tabel 12. Jumlah Pendapatan masing-masin jenis Pekerjaan Anak Sumber Data diperoleh dari data primer, 2020 Tabel 12, menunjukkan bahwa pekerjaan anak dari responden penjual aksesoris yang bekerja yaitu mereka yang sudah berumur lebih dari 17 tahun dan sudah tidak sedang menempuh pendidikan dalam hal ini anak dari responden penjual aksesoris yang bekerja hanya ada 3 orang, karena yang paling banyak anak dari responden masih sedang menempuh pendidikan. Pekerjaan Bisnis Jual Beli yaitu jual beli handphone dengan rata-rata pendapatan per bulan, kemudian pekerjaan sebagai Buruh Tani, 2 orang responden yaitu mereka yang diberi upah dengan bekerja di kebun orang lain dan rata-rata pendapatan yang didapat per orang. Tabel 13. Rata-rata pendapatan Anggota Keluarga Berdasarkan Jenis Pekerjaan Suami Rata-rata Pendapatan Keluarga Rp Sumber Data diperoleh dari Data Primer Tabel 13, Menunjukkan bahwa Rata-rata pendapatan keluarga terbesar ada pada jenis pekerjaan Suami sebagai Petani dengan total pendapatan Keluarga sebesar sedangkan rata-rata pendapatan terkecil ada pada jenis pekerjaan Montir yaitu sebesat Maka dapat dihitung kontribusi masing-masing anggota keluarga berdasarkan jenis pekerjaan suami dan dapat dilihat pada Tabel 14. Agri-SosioEkonomi Unsrat, ISSN p 1907– 4298, ISSN e 2685-063X, Terakreditasi Jurnal Nasional Sinta 5, Volume 16 Nomor 3, September 2020 421 - 430 Agrisosioekonomi Jurnal Transdisiplin Pertanian Budidaya Tanaman, Perkebunan, Kehutanan, Peternakan, Perikanan, Sosial dan Ekonomi Tabel 14. Kontribusi Anggota Keluarga Menurut Jenis Pekerjaan Suami Rata-rata Pendapatan Keluarga Rp Sumber Data diperoleh dari Data Primer, 2020 Tabel 14 menunjukkan bahwa Kontribusi ibu rumah tangga terhadap Pendapatan Keluarga yang paling besar terdapat pada jenis pekerjaan suami sebagai Fotografer yaitu sebesar 65,51%. Sedangkan kontribusi Ibu rumah tangga yang paling sedikit ada pada jenis pekerjaan suami sebagai Buruh yaitu sebesar 11,41%. Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Kontribusi Ibu Rumah Tangga Penjual Aksesoris dikawasan wisata Bukit Kasih Kanonang secara keseluruhan dari semua responden, dapat dilihat dari Tabel Tabulasi Pendapatan Keluarga Penjual Aksesoris di Bukit Kasih Kanonang Kontribusi Ibu Rumah Tangga x 100 = 33,81% Berdasarkan tabel tabulasi dapat dilihat bahwa kontribusi istri terhadap pendapatan keluarga sebesar 33,81%. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi istri lebih kecil dari pada kontribusi suami untuk menunjang pendapatan keluarga. Dikarenankan para istri mengerjakan pekerjaan menjual aksesoris setelah menyelesaikan pekerjaannya dirumah sebagai ibu rumah tangga seperti memasak, mencuci dan mengurus anak dan setelah itu mengerjakan pekerjaannya sebagai penjual aksesoris. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kontrbusi pendapatan ibu rumah tangga penjual aksesoris terhadap pendapatan keluarga yaitu sebesar dari total keseluruhan pendapatan keluarga. Dan jika dilihat dari umur responden terbanyak ada pada umur 41-46 tahun, jika dilhat dari Tingkat pendidikan responden terbanyak ada pada tingkat pendidikan SMP, jika dilihat dari jumlah tanggungan responden maka jumlah tanggungan terbanyak yaitu jumlah tanggungan 2 , jika dilihat dari lama bekerja responden maka dapat dilihat lama bekerja responden terbanyak ada pada 1-5 tahun, jika dilihat dari jumlah hari kerja terbanyak responden yaitu 16 hari kerja dalam satu bulan dan jika dilihat berdasarkan pekerjaan suami, kontribusi ibu rumah tangga tertinggi yaitu pekerjaan sebagai fotografer, dengan persentase Saran 1. Lebih mengembangkan usaha menjual Aksesoris dengan cara menambah jenis aksesoris yang lebih bervariasi. 2. Mencari alternatif lain dengan cara menjual aksesoris tidak hanya di Bukit Kasih Kanonang tapi juga di tempat wisata lain sehingga dapat meningkatkan pendapatan. 3. Penelitian ini hendaknya dapat dijadikan patokan bagi ibu-ibu rumah tangga dalam mengerjakan sesuatu bahwa selain pekerjaan sebagai istri dan ibu dalam keluarga dapat juga berperan dalam usaha mencari nafkah guna menambah pendapatan keluarga. Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga…………….............................Gloria Lopulalang, Mex Sondakh, Melsje Memah DAFTAR PUSTAKA Handayani dan Artini, 2009. Kontribusi Pendapatan Ibu Rumah Tangga Pembuat Makanan Olahan Terhadap Pendapatan Keluarga. Piramida Volume V No 1 Juli. Diakses pada 10 Desember 2010. Sukirno, Sadono. 2009. Mikro Ekonomi. Jakarta Raja Grafindo Persada. Wisadirana. 2004. Kontribusi pendapatan tenaga kerja wanita pada usaha pembuatan tempe terhadap pendapatan keluarga Studi Kasus Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang Skripsi A. A Murad D 2016. Diakses pada 1 Desember 2019. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Th Nor Indah HandayaniPutu WayanArtiniThe Contribution of Housewife Workers in Food Processing to The Total Family Income The uncertainly of the economic condition where the chance of employment is limited has led to the stability of family source of income. This condition has pushed haousewifes where previously just conserned on domestic matters to public sector partisipation to support family income. This research aimed at finding contribution of housewife workers income by processing food to the total family income. This research was conducted at Pemogan village, South Denpasar district, Province of Bali. This result of the research shows that type of job done by housewife worker were in food industries with the average time alocation for processing food accounts for hours per day. It was also found that the average of earning per month is and it amounts is of the total family's income. This implies that labor produvtivity is Rp3, per hour. The reasons wife working are a to support family income, b to fill sparetime with positive activities, c to look for an experiences. About 83,3% housewife worker doesn't find difficulties for processing food, only a small amount 16,7% finds difficulties. In order to improve the contibution of houswife worker to the family income, it is suggested to guide them for better processing methodes and management by related institutions. This includes Bali Agricultural office and Ekonomi. Jakarta Raja Grafindo PersadaSadono SukirnoSukirno, Sadono. 2009. Mikro Ekonomi. Jakarta Raja Grafindo pendapatan tenaga kerja wanita pada usaha pembuatan tempe terhadap pendapatan keluarga Studi Kasus Kelurahan Tanjung SariWisadiranaWisadirana. 2004. Kontribusi pendapatan tenaga kerja wanita pada usaha pembuatan tempe terhadap pendapatan keluarga Studi Kasus Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang Skripsi A. A Murad D 2016. Diakses pada 1 Desember 2019.
polis pendapatan keluarga adalah